Dato’ Godam?????

Posted: June 23, 2007 in Uncategorized

Siapakah banarnya Dato Godam ani…pebuatan siapa yang mengaitkan keturunanku dengan Dato Godam ani…ku baca bukunya, salasilah jua ganya, ada lagi namaku tu…nama kawanku pun ada…dangsanak ku pun ada…tapi inda jua ku liat ia menamu-namukan salasilah atu…eh inda ku paham apa yang ditulis oleh si inda pandai pencen ani…bapaku pun baru pernah mendangar nama atu…moyang si inda pandai pencen ani kali bah…hmm…buku atu aku bagitau kamu ah..inda pedah dibali, ceta pun inda ada…baik ku baca blog orang tu..daripada ku baca buku Dato Godam ah..

About these ads
Comments
  1. Ntah ah says:

    Your Pathetic…….Dato Godam is like ancestor to us kalia ah……. =P

  2. hitamlagam says:

    Adakah abiskita pasti? Kerana sejarah boleh direka-reka oleh manusia untuk kepentingan sendiri. Lebih aku mengakun ‘ancestor’ yang memang tantu2 ku paham turusnya dari mana…:), kalau kan bercerita pasal Dato Godam lebih baik bercerita pasal sejarahnya dan apa ‘contribution’nya arah negara kitani, kalau ada jualah…

  3. SooOo says:

    Wei kmu….Nama my family semua jua msuk pat buku ah!!! Moyang2 ku yg di kuching sarawak pun msuk…Brngkali kita atu nda mbca buku atu bnr2 kali..Iatah nda fhm kisah nya…Abiskmi fhm ey!! Hahaha brngkali biskita atu cucucicit nya yg jauh bnr n brbiz kali…Hahaha if kita tanya pat negeri serawak grenti durng knal cpa DATO GODAM ane….N n n cna jua yg ‘c inda pndai pencen’ 2 kn pencen mun nda bganti nya.,lau nda kita ja mngantikn..Hahaha

  4. hitamlagam says:

    Jangankan nama family biskita, namaku pun ada. Ganya maksudku ani jangan disalah tafsir. Aku ganya mau jikalaulah Dato Godam atu seorang yang begitu penting bagi negara kitani, kenapa inda dibuat saja cerita pasal sejarahnya dan impaknya arah negara kitani. Buku Dato Godam atu udah ku baca, ia “chunk in” ganya salasilah-salsilah yang terdapat dalam simpanan Pusat Sejarah Brunei. Inda ia membagi tau “connectionnya” secara terperinci. Jadinya kalau Dato Godam ani seorang yang memang penting bagi sejarah Brunei, bukukan sejarahnya, dan berikan fakta-fakta yang lengkap dengan disertai hujah-hujah yang bernas, sehingga orang boleh faham tentang Dato Godam. Dan jikalau biskita memang faham tentang Dato Godam ceritakan ku serba sedikit pasal kedidia. “Either” bercerita dalam post ani atau email arahku.:)

    Diharap kepada terasa dengan post ku ani, supaya dibawa bersabar dan berbincang tentang perkara ani secara diplomatik supaya keraguan dapat dibuang dan kemarahan pun inda terjadi. OK.

    Salam daripada yang empunya blog,

    Awangku Mohammad Najib bin Pengiran Haji Mulek…

    P/S: Cek namaku ani dalam buku Dato Godam ah…ada tu…

  5. hairi says:

    keluarga kami ada keturunan sultan omar ali saiffudin 2.kalau nak tau selanjutnya sila email kami dan kami akan memberitahunya….

  6. hua.... says:

    apa pasal………..

  7. Saudara Islam kamu semua dan Hamba Allah tak kira pangkat dan keturunan says:

    skadar jua ih.. kan semua jua nama urg Brunei di sana… inda payah dibangga2kan.. buku ani aimnya utk meliat siapa nini moyang ketani.. siapa saudara ketani.. siapa 3rd cousin etc… atu saja tu… bukannya pasal dato godam ani itulah inilah..

    kedatangan orang Minangkabau ke Brunei secara historis terjadi pada zaman pemerintahan Sultan Nasruddin (Sultan Brunei ke-15) tahun 1690-1710. Pada waktu itu seorang kerabat diraja Minangkabau yang bernama “Raja Umar” atau dikenal dengan gelar Dato Godam datang ke Brunei dengan menyamar sebagai saudagar. Beliau merupakan keturunan Bendahara Tanjung Sungayang, Pagaruyung. Ayah Dato Godam yang bernama Bendahara Harun kawin dengan seorang wanita Belanda yaitu anak Jan Van Groenewegen yang menjabat sebagai Residen Belanda di Padang. Menurut adat Minangkabau, Bendahara Harun merupakan anggota “Basa Ampek Balai” yang menjalankan administrasi kerajaan bersama-sama. Keputusan “Basa Ampek Balai” sebelum dijalankan haruslah mendapat persetujuan dari Raja Alam, Raja Adat dan Raja Ibadat. Raja Alam merupakan penguasa kerajaan dan menguasai hukum menurut adat yang turun temurun. Raja Ibadat adalah raja yang menguasai hukum Islam sebelum dijalankan di tengah masyarakat. Dewan “Basa Ampek Balai” tersebut terdiri dari Bendahara di Sungai Tarap, Tuan Gadang di Batipuh, Raja Indomo di Saruaso dan Angku Kadi di Padang Ganting. Setiap perkara yang akan dijalankan dalam masyarakat Minangkabau hendaklah terlebih dahulu dimusyawarahkan dalam rapat “Basa Ampek Balai”. Setelah diputuskan barulah masalah itu dihadapkan kepada Raja Adat dan Raja Ibadat. Apabila pendapat itu tidak bertentangan dengan adat dan hukum Islam barulah disampaikan kepada Raja Alam untuk disahkan.

    Pada tahun 1662, Jan Van Groenewegen dipindahtugaskan sebagai pejabat VOC ke Padang setelah sebelumnya menjadi Residen Aceh pada tahun 1660. Dia dikenal memiliki pengalaman luas karena banyak bergaul dengan masyarakat dan mengetahui seluk beluk adat istiadat setempat. Keahliannya dalam administrasi pemerintahan menyebabkannya disukai Sultan Aceh. Apalagi kemampuannya menarik perhatian orang dalam pergaulan. Anak Jan Van Groenewegen kemudian kawin dengan Bendahara Harun yang kemudian melahirkan Dato Godam.

    Dato Godam sejak dini telah disiapkan sebagai pengganti ayahnya menjadi Bendahara. Ia merupakan anak sulung dari Bendahara Harun. Namun orang Minangkabau yang fanatik kepada adat sangat memandang rendah kepadanya karena beliau bukanlah putera Minangkabau asli. Meskipun merupakan anak yang layak menggantikan bapak, namun pandangan masyarakat tersebut menyebabkan perasaannya menjadi tidak senang. Hal itulah yang menyebabkan timbul keinginannya untuk “lari” ke Serawak. Kepergiannya itu telah membuat hati bapaknya menjadi sedih sehingga pernah diutus suatu rombongan untuk mencari Dato Godam.

    Setelah sampai di Serawak, Dato Godam bertemu dengan Pangeran Tumenggung Pangeran Abdul Kadir. Secara kebetulan kedua-duanya merupakan orang pelarian karena kecewa. Pangeran Tumenggung Pangeran Abdul Kadir “lari” ke Serawak karena kecewa sebab anak perempuannya dipinang oleh Raja Brunei yaitu Sultan Nasruddin untuk dijadikan istri ketiga. Karena rasa senasib sepenanggungan itu, akhirnya Dato Godam menerima ajakan Pangeran Tumenggung Pangeran Abdul Kadir yang masih keturunan bangsawan Brunei untuk pergi ke Brunei.

    Dato Godam merupakan seorang yang bijaksana dan terdidik serta memiliki pengetahuan yang tinggi sehingga dirinya cepat dikenal di Brunei. Kehadirannya disambut baik oleh Sultan yang memerintah yaitu Sultan Nasruddin karena dinilai memiliki pengetahuan dan kecakapan dalam menjalankan pemerintahan. Sultan Brunei meminta Dato Godam menetap di Brunei dan disuruh menikah. Karena merasa “berhutang budi”, Sultan Nasruddin menawari Dato Godam permintaan apa saja untuk dipenuhi. Dato Godam kemudian menyatakan keinginannya mempersunting anak Pengiran Tumenggong Pengiran Abdul Kadir yang menjadi istri ketiga Sultan. Permintaan tersebut dikabulkan Sultan. Bersama perempuan bernama Tandang Sari inilah, Dato Godam kemudian mendapatkan dua orang anak yaitu Manteri Uban dan Manteri Puteh. Dato Godam berjasa menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi pada waktu itu sehingga beliau semakin disukai Sultan. Apa yang dilakukannya tidak lepas dari pengalamannya di Kerajaan Minangkabau.

    Atas permintaan ayahnya Bendahara Harun, Dato Godam bermaksud meninggalkan Brunei untuk kembali ke Minangkabau dengan membawa anaknya, Manteri Uban (nama sebenarnya Abdul Rahman). Dengan berat hati Sultan Nasruddin memberi izin dengan syarat agar anak keduanya, Manteri Puteh tetap tinggal di Brunei sebagai cikal bakal administrator pemerintahan dan diharapkan memiliki loyalitas yang tinggi kepada Sultan sebagaimana yang telah ditunjukkan Dato Godam. Disamping itu, Sultan Nasruddin berjanji akan menganugerahkan keistimewaan kepada anak cucu Dato Godam sebagai keturunan bangsawan sebagaimana di Minangkabau. Keturunan inilah yang sekarang disebut ‘Awang-awang Damit’ dan dipilih oleh para Sultan Brunei untuk dianugerahi gelar ‘manteri’ yaitu pembesar negara yang turun temurun.

    Dari Brunei, Dato Godam singgah di Serawak untuk menemui mertuanya, Pengiran Temenggong Pengiran Abdul Kadir yang menetap di Pusa. Tidak lama sesudah pertemuan tersebut, sang mertua meninggal dunia sehingga Dato Godam tidak meneruskan perjalanannya ke Minangkabau. Akhirnya Dato Godam memutuskan menetap di Pusa sampai meninggal dunia dan dimakamkan di sana. Makam Dato Godam dan mertuanya terletak di dekat Sungai Telit. Sedangkan tidak jauh dari sana terdapat satu batu nisan Tandang Sari. Paras rupa istri Dato Godam tersebut sangat cantik dan konon kabarnya, Tandang Sari kemudian bunuh diri untuk menghindari fitnah orang banyak akibat banyaknya laki-laki yang tergila-gila dan mengikutinya.

    Sejak meninggalnya Dato Godam, Manteri Uban tidak kembali ke Minangkabau dan tetap tinggal di Serawak. Meskipun pernah ke Minangkabau untuk berziarah, beliau kemudian kembali lagi ke Serawak. Bekas kapal yang digunakan untuk berlayar ke Minangkabau itu masih bisa ditemui di Seri Aman, Serawak sampai saat ini.

    • hitamlagam says:

      ” skadar jua ih.. kan semua jua nama urg Brunei di sana… inda payah dibangga2kan.. buku ani aimnya utk meliat siapa nini moyang ketani.. siapa saudara ketani.. siapa 3rd cousin etc… atu saja tu… bukannya pasal dato godam ani itulah inilah..”

      katakan bangga inda jua, ganya kan lebih baik membuat buku dengan cerita about dato godam daripada simpan salasilah ganya…bukan plang salasilah inda bagus, ganya salasilah ani, minta free daripada Pusat Sejarah pun boleh, inda payah kan bayar2…

      and daripada pemahaman ku, keturunan ani adalah keturunan yang susur jalurnya daripada orang-orang yang tinggal di Kg. Sungai Kedayan dan dalam pada masa yang sama, ramai wanita dari keturunan tersebut telah diperisterikan kerabat diraja Brunei terdahulu…

      pasal atu ada ku tau ceritanya, tapi kan lebih baik bercerita pasal sejarah Dato Godam daripada menyimpan salasilah saja…lebih bermakna dari segi akademik dan pemahaman mengenai siapa yang dibanggakan atu….

      Inda ja???

      • lurus nya hitam lagam atu. masalah kitani di Brunei ani… apabila bercerita mengenai dengan tokoh-tokoh dahulu-kala… kitani lebih suka dan bangga menceritakan bahagian2 yang nampak ajaib, lambang kekuatan temasuk tah jua lambang ‘womaniser’. Ani temasuktah jua, minta maaf, YDM Pehin sendiri, sampai one time atu, ia pun ikut mempromosikan tahyul gambar orang kebanaran di Ulu Temburong.

        kitani kurang atau hampir tiada langsung buku-buku ilmiah mengenai kehidupan tokoh-tokoh silam yang boleh dibanggakan.

        Bagaimana sekiranya pihak Muzium Brunei mengumpulkan sukses story orang-orang yang dikurniakan gelaran samada wazir, cheteria, pehin, manteri pendalaman. Dan muatkan jua… apakah jasa2 dan sumbangan2 mereka kepada masyarakat ketika itu dan kepada negara sehingga disampiri gelaran kebesaran Brunei. Mana tau dengan ada cerita miatu… akan menjadi sukat2 kepada generasi sekarang untuk lebih berusaha demi negara.

        Banyak lagi topik2 lain yang boleh pihak Muzium Brunei atau Dewan Bahasa jadikan sebagai buku. Contoh… generasi sekarang ani temasuk kediaku buta mengenai keadaan Brunei ketika penjajahan Jepun. Mendangar pulang cerita datu-nini… tapi secara verbal saja… mau jua kan meliat visual. Contohnya yang banyak orang inda tau… kapal perang terbesar Jepun… Yamato… pernah berlabuh di perairan Brunei… sebelum tinggalam kana timbak ulih tentera bersekutu… atupun ulih ku membaca di forum luar.

        pada yang bangga menyabut ia keturunan sianu-sianu… inda salah… tapi make sure diri sendiri mampu menonjolkan ketokohan sendiri tanpa menumpang menggunakan nama keturunan atu… terutama untuk tujuan komersial :)

        …. so… lurus tah sudah tu nya hitam lagam atu.

  8. hitamlagam says:

    Terima kasih putih melepak…iatah membarinya negara lain lebih pintar berbicara tentang sejarah negara bisdurang, pasal durang gali banar2 cerita tentang seseorang, bukannya kan simpan salasilah saja, salasilah minta ke pusat sejarah pun buleh…hehehe…sejarah brunei kitani harus lebih digali lagi, kalau tah buleh yang true history…at least we have something to discuss about to relate it with peredaran masa sekarang…

  9. MELURUSKAN APA BETUL says:

    Kenapa biskita mempost di blog sendiri dan Kenapa biskita sendiri inda bertanya arah pusat sejarah kalau kita curious banar. Daripada biskita kan mengucapkan tarsilah tu, baik pulang kita cari info2 nya tu… Maksud peribahasa,

    “KALAU INDA BERTANYA SESAT JALAN”,”JIKA TIDAK KENAL MAKA TIDAK CINTA”

    Walaupun nya biskita inda guna2 dengan tarsilah itu, sekurang2nya biskita tahu terbubuh nama kita di sana tu, orang membuat kajian mengenainya. Mun nada history, bahapa di kaji. Yth kita lihat on the other side jua. Banyakkan bertanya, banyak luaskan pandangan… Kalau kita membuat kajian sendiri, pasti biskita tahu tu

    Aku pun tergolong jua dalam keturunan dato godam atu, inda jua membagi watir mcm biskita ini.

    • hitamlagam says:

      Bukan plang apa, aku post blog ganya kan tau apakah sumbangan yang telah dibuat oleh Dato Godam kepada negara ani, dan if ada aku mau tau sejarahnya…pasal mun salasilah ganya ku pinta pun dapat bah, inda payah bebali…if buku Dato Godam atu penuh dengan cerita mengenainya, aku sanggup membali..or if abiskita ada cerita pasal kedidia, u are welcome to bercerita, at least ada sharing of information, bukan kan sharing kemarahan…:)

  10. hye says:

    hahahahahaha…..jangan terlalu memandang sesuatu itu terlalau tinggi,setiap manusia ada kelemahannya.Kalau dato godam tidak ternama mesti tiada yang mengaku saudara hahahahahahahahahahahaaha

  11. Abd Aziz says:

    After reading the comments that you made on Dato Godam and the replied. Its kinda sad and pathetic that “you” are somehow related to this geneaology. Probably in reality you “itamlagam” are just making it up and the fact that you and your family are NOT in the Salasilah Dato Godam.

    I’m not thrashing you because of the Salasilah but I really hate people like you making up name to people who had made so many contributions to Brunei. I’m referring to “si inda pandai pencen ani”. How dare you making fun of people by making up name?

    The person you called si inda pandai pencen anii maybe has no relation with you but he is to me and my family.

    What have you done so far better than “si inda pandai pencen ani” that you have the acknowledgment of Sultan Omar Ali Saifuddien III and our Sultan Hj Hassanal Bolkiah?

    Are you the first Historian in Brunei? Were you a member of BARIP? Were you involved in the process of Brunei Independence? DO you think finding the History of Brunei and its Sultans is an easy task?

    People who makes fun of people are usually uneducated……Signs of uneducated people are like you……only know to criticize blindly, and think that they way better than the people they criticize. They talked nonsense and speaks without valid arguments

    Do you think that he made that book Dato Godam without researching? Obviously you never ever ever ever written a book before……..or differentiate what is a STORY BOOK and A REFERENCE BOOK…..SUCH A PITY

    I know that you will reply my post with your unimaginative remarks to make yourself feel better. By the way……Just curious why don’t you just used real name so we can check it out whether you are related to this Salasilah or not

    You called him name “si inda pandai pencen ani” which is a SIN (DOSA), Don’t you think its better that you apologize to him for making name?

    Even the smallest of SIN will be accounted for in AKHIRAT.

  12. harr says:

    ooh yes banarnya Abd Aziz atu aku sokong ……syukurtah sudah mun ada tersangkut nama mu atu c Hitam Lagam….so jangan tah kan mengkritik labih-labihan ,bila nda berpuas hati coba tah ke pusat sejarah ,tulis tah sejarah yang biskita tau daaan hantar sejarah yang rasanya biskita tau atu , ani ku rasa dan ku amat-amati maksud biskita atu macam kan minta pankat n macam kan minta galar saja…relax bah baca dan amat-amati .baik sudah ada buku macamani ani kna buat oleh pengarah Pehin atu, at least dapat jua menamukan saudara yang berjauhan atu ,aniiii inda kn mengkritikkkk tia ganya ,iaaatah org tani ani.mudah kn bekelahiiii

  13. abdul yakup norshen al-alawiyah says:

    mengapa diberatkan soal keturunan sedangkan nabi s.a.w sendiri insan termulia didunia tidak sibuk pasal asal usul baginda. Apa ada pada keturunan raja atau pembesar jika olahan makar membawa ke neraka. Allah tidak memandang keturunan tapi Allah memandang iman hambanya.
    saya cuma bersyukur kerana berketurunan Sayid Hussein Jamadil Al-Qubra tapi saya tidak mengagung-agungkan beliau kerana beliau cuma hamba Allah yang dimuliakan nasabnya kerana beliau keturunan Muhammad s.a.w Bin Abdullah Al-Hasyim.

  14. harry says:

    baik sudah ada nama abiskita terkamdongatuuu,,,dan jua baik sudah orang yang bertanggong jawab kn menyatukan kaum di Brunei dan di luar ani ,,,,saya maksudkan yg di muliakan pehin yang membuat dan pusat sejarah yang membukukan buku Dato godam atu……at lease mana yang salah bagi yang mengkritik atu ,,,datang jumpa iaaa….becerita mun tahuuu jalan ceritanya dari awallllll…ani membangkang di belakang….inda tahu tanyaaaa……ngoo

  15. harry says:

    hi putihh,,,,,memang lh …sudat adat ….siapa nda membanggakan mana-mana orang yang ternama ,apa lagi saudara sendir,cobatah saudara Putih sendiri jadi ternama,,,,antah ,,,apa jadi laman ani ????? panohh betulis kali…..so…apa yang ada ,,ia syukur alhamdulillah,,,,mana yang terdaya kana buat dlm buku atu,,ia syukur,,,,,kalau mau becerita abiskita menambah lagi ,,,buat sejarah kita memajukan Brunei ani…baru mantap…..buat kah mahligai di Brunei ani,,,,buat kh Brunei ani mcm Hollywood…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s